Mitos tentang kesehatan mental di Indonesia

10 Mitos Kesehatan Mental Paling Menyesatkan: Cek Faktanya!

Kesehatan mental sering dikelilingi oleh berbagai mitos dan kesalahpahaman, khususnya di Indonesia. Dari anggapan orang dengan masalah mental sebagai individu kejam hingga mitos bahwa mereka tidak bisa sukses. Pelajari realitas di balik mitos ini supaya kita bisa memahami satu sama lain dengan lebih baik.
0 Shares
0
0
0

Kesehatan mental seringkali menjadi topik yang terlupakan; layaknya sebuah buku bagus yang terselip di rak paling bawah.

Meski belum mendapat sorotan utama, penting bagi kita untuk menyelami dan memahaminya dengan lebih mendalam.

Di tengah informasi yang beredar, banyak mitos yang membelenggu pemahaman kita.

Mengapa kita perlu tahu lebih? Karena dengan pemahaman yang benar, kita tidak hanya menjadi lebih bijaksana dalam melihat isu ini, tapi juga bisa memberi dukungan yang hangat kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam era informasi, kebenaran adalah hal yang paling berharga. Mari bersama-sama menelisik realitas di balik kesehatan mental di tanah air kita.


Mitos #1: Orang dengan Masalah Mental = Rentan Melakukan Kekerasan

Anggapan orang dengan masalah kesehatan mental identik dengan sifat bengis atau kejam (suka melakukan kekerasan) adalah mitos yang salah kaprah.

Orang dengan masalah kesehatan mental bukan berarti mereka memiliki kecenderungan lebih besar untuk berperilaku kejam.

Sebenarnya, studi telah menunjukkan bahwa individu yang mengalami masalah kesehatan mental malah cenderung menjadi korban kekerasan, bukan pelakunya. 

Orang dengan masalah mental seringkali menjadi korban kekerasan
Orang dengan masalah mental seringkali menjadi korban kekerasan.

Sayangnya, film dan berita seringkali salah menggambarkan orang-orang dengan masalah kesehatan mental sebagai individu yang kejam dan tak terkendali. 

Bahaya stereotype ini adalah bisa berakibat pada diskriminasi dan pengucilan. 


Mitos #2: Masalah Kesehatan Mental Jarang Terjadi

Seringkali kita berpikir bahwa masalah kesehatan mental itu langka atau tidak umum terjadi. Namun, apakah itu benar? Tentu saja tidak!

Masalah kesehatan mental jauh lebih umum daripada yang banyak orang pikirkan. 

Menurut WHO, satu dari empat orang akan terpengaruh oleh gangguan mental atau neurologis pada suatu titik dalam hidup mereka.

Dan menurut data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, sekitar 20% penduduk Indonesia mengalami gangguan mental.

Jadi dari sini kita dapat belajar bahwa kesehatan mental sebenarnya adalah hal yang sangat umum terjadi di masyarakat, termasuk di Indonesia.

Banyak orang mengalami masalah kesehatan mental dalam berbagai tingkat keparahan. Namun, karena stigma dan kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental, seringkali masalah ini tidak terlihat atau diabaikan.

Kesehatan mental dapat mempengaruhi siapa saja, tanpa memandang usia, gender, atau latar belakang sosial.

Harus kita kenali bersama bahwa masalah kesehatan mental itu nyata dan banyak menghantui orang di sekitar kita. Dengan meningkatkan pemahaman kita, kita bisa membantu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi individu-individu yang berjuang dengan masalah kesehatan mental. 


Mitos #3: Masalah Kesehatan Mental adalah Tanda Kelemahan

Kesehatan mental bukanlah ukuran kelemahan seseorang. Faktanya, kondisi mental merupakan salah satu aspek krusial dalam kehidupan kita, setara dengan pentingnya kesehatan fisik.

Konten lain:  Teknik Mindfulness untuk Meningkatkan Kualitas Hidup

Sama seperti kondisi tubuh kita yang dipengaruhi oleh berbagai aspek, keadaan mental kita juga terbentuk oleh faktor genetika, lingkungan, serta rangkaian pengalaman yang kita alami.

Kesehatan mental itu multidimensi dan tak selalu bisa dilihat secara langsung seperti halnya luka atau sakit fisik.

Mengakui adanya tantangan kesehatan mental menandakan kesadaran diri dan keberanian untuk menghadapi realitas, bukan kelemahan.

Banyak individu di sekitar kita berhasil menjalani hari-hari mereka meskipun menghadapi masalah kesehatan mental.

Penting untuk kita pahami bahwa menghadapi masalah kesehatan mental bukanlah simbol ketidakmampuan. Menilai sebaliknya hanya akan memperkuat stigma yang tidak perlu.

Langkah terbaik yang bisa kita ambil adalah memberikan dukungan kepada mereka yang tengah berjuang.

Alih-alih menghakimi, mari kita hargai setiap perjuangan dan cerita yang mereka bawa.


Mitos #4: Kita Dapat “Keluar” dari Masalah Kesehatan Mental dengan “Kemauan Keras”

Kita tidak dapat berlari dari masalah kesehatan mental dengan "kemauan" semata
Running from the brain – Artwork

Jika kamu melihat seseorang dengan luka patah tulang, tentu tidak akan berharap agar ia sembuh hanya dengan bersemangat, bukan?

Begitu pula dengan kesehatan mental. Kamu tidak bisa berharap semuanya akan baik-baik saja tanpa adanya bantuan konkret.

Menghadapi tantangan kesehatan mental bukan hanya soal “keinginan kuat”.

Terkadang, bantuan profesional dari psikiater atau psikolog, sangat diperlukan. Karena mereka dapat memberikan panduan dan rekomendasi yang sesuai dengan kondisi mental tertentu.

Namun, proses pemulihan tidak berhenti di situ. Terapi, pengobatan (jika diperlukan), dan dukungan dari keluarga serta teman juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Yang perlu kita semua pahami adalah bahwa menghadapi masalah kesehatan mental bukan hanya soal semangat. Dukungan dan strategi yang tepat sangatlah penting.


Mitos #5: Terapi dan Pengobatan Diri Buang-buang Waktu

Terapi dan pengobatan diri sering kali dianggap sebagai pemborosan waktu oleh netijen. Namun, ini adalah salah satu mitos yang perlu kita pecahkan.

Faktanya, keduanya sangat penting dalam menjaga kesehatan mental kita.

Ilustrasi toxic relationship

Sama seperti ketika kita terjebak dalam toxic relationship dan butuh teman curhat supaya bisa move on.

Bedanya, terapis adalah profesional yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk memberikan solusi efektif.

Terapi dan pengobatan diri dapat membantu kita mengenali dan memahami perasaan dan pikiran kita dengan lebih baik. 

Melalui terapi, kita dapat belajar mengenali pola pikir yang tidak sehat atau perilaku yang merugikan diri sendiri.

Dengan pengobatan diri yang tepat, kita dapat mengatasi masalah kesehatan mental kita dengan lebih efektif.

Terapi dan pengobatan diri juga dapat membantu kita mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup. 

Kita dapat belajar teknik-teknik relaksasi dan koping yang efektif untuk menghadapi stres sehari-hari.

Pengobatan diri seperti olahraga, meditasi, atau menjalani hobi yang menyenangkan juga bisa membantu mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan kita secara keseluruhan.

“Mencegah Lebih Baik dari Mengobati”

Melakukan terapi dan pengobatan diri dapat membantu mencegah kemungkinan terjadinya kondisi kesehatan mental yang lebih serius.

Dengan mengatasi masalah kesehatan mental pada tahap awal, kita dapat mencegah kondisi seperti depresi atau gangguan kecemasan yang lebih parah. Ini bisa menjadi langkah preventif yang penting untuk menjaga kesehatan mental kita.

Jadi, jangan anggap terapi dan pengobatan diri sebagai pemborosan waktu. Sebaliknya, kita perlu menyadari pentingnya dua hal tersebut dalam menjaga kesehatan mental kita!

Konten lain:  10 Film Luar Biasa yang Menyentuh & Menginspirasi Jiwa

Mitos #6: Hanya Orang Gila yang Pergi ke Terapis atau Psikiater

Kalau pergi ke terapis atau psikiater berarti orangnya gila dong? Hmm.. mungkin ada orang yang berpikir seperti itu. Tapi, mari kita perjelas hal ini secara langsung: Itu hanya mitos belaka!

Menyikapi masalah kesehatan mental dengan serius dan meminta bantuan kepada profesional bukanlah tanda bahwa seseorang “gila”. 

Justru itu pertanda bahwa orang tersebut peduli terhadap kesehatannya dan berani menghadapi masalah yang ada. 

Ingat satu hal: tidak ada yang salah dalam mencari bantuan kesehatan mental. 

Semua orang berhak mendapatkan pengobatan dan terapi yang tepat untuk bisa hidup dengan bahagia dan sehat. 

Jangan biarkan mitos ini menghalangi kita untuk mendapatkan bantuan yang butuhkan. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, jadi jangan pernah meremehkannya. 😊


Mitos #7: Masalah Kesehatan Mental Bersifat Permanen

Mitos ini pada dasarnya mengatakan bahwa jika seseorang didiagnosis dengan suatu masalah kesehatan mental, dia akan menderitanya seumur hidup. Duh, jangan percaya langsung ya, teman!

Tahukah kamu, banyak kondisi kesehatan mental dapat diobati dan dikelola dengan efektif dengan bantuan terapi psikologis dan/atau medis?

Walaupun tidak semua masalah kesehatan mental dapat sepenuhnya dihilangkan, banyak kondisi yang bisa dikelola hingga mencapai tahapan remisi atau minimalisir dampaknya. 

Contoh konkrit nih, orang dengan depresi, misalnya, bisa merasa jauh lebih baik setelah mendapatkan perawatan yang tepat.

Dengan terapi dan dukungan, mereka bisa menjalani hidup sehari-hari dengan baik dan merasa bahagia kembali. Tidak ada yang ‘menyerah’ kok di sini, semua butuh proses. 

Sikap dan pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental yang sehat sangatlah penting dalam proses pemulihan. Kita semua punya peran, apakah kamu merasa sudah memberikan dukungan maksimal?

Jangan biarkan mitos ini menghalangi kamu atau orang lain untuk mencari bantuan jika membutuhkan.

Sebab, ingat, seekor burung tidak akan sanggup terbang tinggi jika sayapnya sakit, begitu pula dengan kesehatan mental kita.

Ketika ada yang tidak beres, carilah bantuan. Kesehatan mental bukanlah stigma, tapi bagian dari kesehatan diri kita yang perlu dijaga dan dirawat.


Mitos #8: Masalah Kesehatan Mental adalah Hasil dari Kegagalan Pribadi

Terkadang, kita cenderung membayangkan bahwa masalah kesehatan mental adalah akibat dari kelemahan pribadi atau kegagalan. Padahal ini adalah cara berpikir yang salah! 🙅‍♂️

Coba bertanya pada diri sendiri, apa kamu bisa mengatakan hal yang sama tentang orang yang menderita penyakit jantung?

Masalah kesehatan mental tidak lebih atau kurang dari kondisi kesehatan fisik lainnya. 

Seperti yang sudah kami bahas sebelumnya, masalah ini adalah hasil dari kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan psikologis – yang sering kali berada di luar kendali kita. 

Kenapa Mitos ini Menjadi Masalah? 

Menganggap masalah kesehatan mental sebagai kegagalan pribadi bisa membawa dampak negatif.

Misalnya, itu bisa mencegah seseorang mencari bantuan yang dibutuhkan karena takut dilihat sebagai “gagal” atau “lemah”.

Padahal, mencari bantuan adalah langkah pertama dan paling penting untuk merasa lebih baik dan memulai perjalanan menuju kesehatan mental yang lebih baik. 

Mengubah Cara Pandang 

Bagaimana caranya? Mulai dengan mengubah cara pandang kita sendiri. Ketika kita berhenti menyalahkan diri sendiri atau orang lain atas masalah kesehatan mental, kita bisa membuka diri untuk berempati dan memberikan dukungan.

Konten lain:  10 Keuntungan Fantastis dari Memelihara Kucing

Selanjutnya, berbicara secara terbuka tentang kesehatan mental dapat membantu meruntuhkan stigma dan mendorong orang lain untuk mencari bantuan.

Ingat, tidak jika ada masalah mental, kita tidak sendiri dan bantuan selalu ada. Ayo kita buka dialog dan ceritakan hal ini kepada lebih banyak orang!


Mitos #9: Berbicara tentang Masalah Kesehatan Mental hanya akan Memperburuknya

Terkadang kita merasa bahwa jika kita membahas tentang masalah kesehatan mental, itu hanya akan membuat situasinya menjadi lebih buruk. Apakah kalian pernah merasa demikian? 

Mitos ini salah besar! Sebenarnya, berbicara tentang masalah kesehatan mental dapat menjadi langkah pertama yang sangat penting untuk mencapai pemulihan.

Bicara soal masalah kesehatan mental tidak sama dengan ‘mengundang’ masalah.

Sebaliknya, ini membantu kita untuk memahami apa yang sedang kita hadapi dan menempatkan kita pada jalur yang lebih baik untuk mendapatkan bantuan.

Siapa tahu, dengan berbicara, kita justru menemukan solusi atau setidaknya mendapatkan dukungan emosional yang dapat meringankan beban yang kita rasakan. 🤗 

“Kesendirian adalah rumah sakit jiwa tanpa dinding” 

John O’Leary
Kesendirian adalah rumah sakit jiwa tanpa dinding
Alone in the Crowd – Artwork

Mitos #10: Orang dengan Masalah Kesehatan Mental Tidak Bisa Sukses

Salah satu mitos kesehatan mental yang cukup umum dan meresahkan adalah ide bahwa seseorang yang berjuang dengan masalah kesehatan mental tidak dapat meraih sukses dalam hidup.

Banyak dari kita mungkin beranggapan bahwa masalah kesehatan mental bisa menghancurkan karir seseorang, merusak hubungan, atau menghambat kemampuan untuk berhasil. 

Namun, ini jelas tidak benar. Untuk menghilangkan keraguan di antara kita, ada banyak contoh orang-orang yang telah meraih sukses luar biasa di berbagai bidang, meski berjuang dengan masalah kesehatan mental.

Dari selebritas ternama yang berbagi pengalaman mereka dengan depresi, kecemasan, atau gangguan bipolar, sampai CEO sukses yang telah berbicara terbuka tentang perjuangan mereka, bukti nyata ada di muka kita. 

Sukses Sesungguhnya

Sukses sesungguhnya tidak ditentukan oleh absennya tantangan, melainkan oleh cara kita menghadapinya.

Dalam hal kesehatan mental, hal tersebut mencakup pengakuan terhadap masalah, pencarian bantuan, dan pemeliharaan kesehatan mental yang berkelanjutan.

Dengan kata lain, berjuang dengan masalah kesehatan mental bukanlah penghalang menuju sukses. Sebaliknya, hal itu dapat menjadi bagian dari perjalanan kita yang membuat kita lebih kuat dan lebih tahan banting. 

Sudah saatnya untuk kita semua membuang jauh-jauh mitos dan stigma terhadap kesehatan mental. Kita perlu berbicara tentang realita, bukan memperkuat stereotip yang tidak membantu.

 Hanya dengan melakukan itu, kita bisa membantu menciptakan masyarakat yang lebih empatik dan mendukung bagi semua orang, tanpa memandang perjuangan kesehatan mental mereka.


Sebagai masyarakat yang sadar dan peduli dengan kesehatan mental, kita perlu memahami bahwa ada berbagai mitos tentang kesehatan mental yang kerap beredar dan menjadi pengetahuan yang salah di masyarakat.

Dengan memahami dan mengetahui apa saja mitos-mitos tersebut, kita bisa membantu melawan stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental di Indonesia. 

Lebih dari itu, kita harus berperan aktif dalam mendidik masyarakat agar memahami bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. 

Kesadaran ini, tentunya, dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung dan empatik bagi mereka yang berjuang dengan masalah kesehatan mental mereka sendiri atau orang lain di sekitar mereka. 

Dengan membongkar mitos-mitos tersebut, kita juga berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih memahami dan tidak menstigmatisasi isu kesehatan mental. 

Jadi, yuk mulai bersama-sama memahami dan membantu menghapus stigma di masyarakat kita terhadap masalah kesehatan mental.

0 Shares
You May Also Like