Monogami tidak untuk semua orang

Monogami: Bukan Pilihan Mutlak untuk Semua Orang

Monogami sering dianggap sebagai bentuk hubungan yang ‘ideal,’ tapi apakah itu benar-benar cocok untuk semua orang?
0 Shares
0
0
0

Monogami adalah sebuah model hubungan yang sudah lama diterima oleh banyak orang dari berbagai budaya. 

Dalam konsep hubungan ini, pasangan yang memilih untuk fokus total satu sama lain, seringkali dianggap sebagai bentuk hubungan yang paling ‘ideal’ atau ‘suci.’ 

Tapi sesungguhnya, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan bahwa monogami adalah satu-satunya jalan yang bisa diambil.

Di sini kita akan membahas beberapa alasan yang bisa membuat monogami bukan pilihan yang paling pas untuk sebagian orang. 

Mungkin saja ada model hubungan lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan keinginanmu. 

Kalau kamu merasa ada ‘sesuatu’ yang kurang dalam hubungan monogamimu, atau mungkin kamu lagi mencari model hubungan yang lebih sesuai, yuk lanjut baca! Siapa tahu kamu menemukan jawaban yang selama ini kamu cari! 🤔


Konteks Sejarah Monogami dalam Kehidupan Manusia

Tahukah kamu bahwa monogami sebagai sebuah konsep itu sendiri sebenarnya cukup muda, terutama jika dibandingkan dengan sejarah umat manusia yang panjang?

Dulu, di zaman prasejarah, manusia lebih cenderung hidup dalam kelompok-kelompok kecil dan berbagi segalanya, termasuk pasangan.

Konsep ‘memiliki’ satu pasangan itu sendiri muncul seiring dengan perkembangan peradaban, terutama saat konsep kepemilikan mulai dikenal—tanah, rumah, dan ya, pasangan.

Ada juga pengaruh agama dan budaya yang memperkuat monogami sebagai satu-satunya pilihan yang ‘benar’.

Ajaran sosial tersebut membuat banyak orang merasa bahwa mereka ‘harus’ memilih monogami, meskipun mungkin itu bukan pilihan yang paling sesuai untuk mereka.

Itu bisa jadi alasan kenapa banyak orang merasa ‘terjebak’ atau nggak puas dalam hubungan monogami—karena secara alami, kita mungkin nggak sepenuhnya ‘dibuat’ untuk itu.

Monogami dalam Perspektif Ilmiah

Menurut beberapa penelitian dalam bidang antropologi dan biologi evolusioner, bisa dibilang monogami bukanlah ‘default setting’-nya manusia.

Sebagai contoh, sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal University of Cambridge menunjukkan bahwa hanya sekitar 29% dari spesies primata yang monogami.

Fakta ini menarik karena primata adalah kerabat biologis kita yang paling dekat. (Walaupun sebenarnya, untuk spesies mamalia secara keseluruhan, hanya 3-5% saja yang monogami!)

Selain itu, Dr. Helen Fisher, seorang antropolog biologis, juga meneliti bahwa manusia memiliki tiga sistem saraf utama untuk perkawinan dan reproduksi: hasrat seksual, perasaan cinta romantis, dan perasaan keterikatan jangka panjang.

Menariknya, ketiga sistem ini bisa beroperasi secara independen. Artinya kita bisa merasakan hasrat seksual atau cinta romantis terhadap lebih dari satu orang tanpa mengurangi keterikatan kita pada pasangan.


Relativisme Budaya Monogami

Monogami mungkin jadi ‘standar’ di banyak negara modern, tapi di banyak budaya lain, model hubungan ini nggak selalu jadi pilihan utama. 

Konten lain:  Work-Life Balance 101 untuk Milenial

Misalnya, di beberapa masyarakat Afrika dan Timur Tengah, poligami — yaitu memiliki lebih dari satu istri atau suami — adalah sesuatu yang lumrah. (Islam juga memperbolehkan poligami)

Di beberapa budaya Asia, konsep ‘hubungan terbuka’ atau ‘poliamori’ juga nggak asing lagi.

Bahkan, di beberapa suku adat, seperti suku Mosuo di Cina, konsep ‘pernikahan’ itu sendiri bisa sangat berbeda dari apa yang kita kenal.

Relativisme Budaya dari Perspektif Ilmiah

Sebuah studi dari George Murdock menunjukkan bahwa dari 1.231 masyarakat yang diteliti olehnya, hanya 186 di antaranya yang benar-benar monogami. 

Studi itu menunjukkan bahwa monogami bukanlah satu-satunya model hubungan yang ‘berhasil’ dalam keberadaan manusia di muka bumi.

Kesimpulannya, kalau kita lihat dari perspektif budaya, monogami itu sebenarnya cuma salah satu dari banyak pilihan yang ada.

Jika kamu kerap gagal dalam percobaan hubungan monogami, mungkin ini saatnya mencari alternatif?


Tekanan Sosial untuk Ber-Monogami

Di banyak tempat, termasuk di Indonesia, ada ekspektasi kuat bahwa orang ‘harus’ berada dalam hubungan monogami.

Bahkan, banyak yang merasa perlu menikah dan settle down di usia tertentu, seolah-olah itu adalah tanda keberhasilan atau kedewasaan.

Tekanan ini bisa datang dari banyak sumber, mulai dari keluarga, teman, hingga media.

Misalnya, berapa banyak film atau serial TV yang kamu tonton di mana happy ending-nya adalah dua orang memutuskan untuk bersama selamanya?

Ekspektasi sosial seperti itu bisa membuat kita merasa ‘kurang’ atau bahkan gagal kalau kita nggak menemukan the one.

Tapi, pernah nggak sih kamu berpikir, kenapa kita merasa perlu memenuhi ekspektasi ini?

Terkadang, tekanan untuk memilih monogami bisa membuat kita mengabaikan kebutuhan dan keinginan kita sendiri.

Kita jadi nggak berani mengeksplorasi atau bahkan mempertanyakan apakah model hubungan ini benar-benar cocok buat kita.

Selain itu, tekanan sosial ini juga bisa mempengaruhi kualitas hubungan kita. Kita jadi lebih fokus pada ‘mencapai target,’ seperti menikah atau punya anak, daripada membangun hubungan yang sehat dan memuaskan.

Pada akhirnya, kita bisa jadi terjebak dalam hubungan yang nggak membahagiakan, cuma karena kita takut dianggap ‘gagal’ oleh masyarakat.

Jadi, kalau kamu merasa terjebak atau nggak nyaman dengan ekspektasi ini, ingatlah bahwa kamu nggak sendirian.

Banyak orang merasa sama, dan itu nggak aneh kok.

Yang terpenting adalah menemukan model hubungan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kamu, bukan apa yang dianggap ‘normal’ oleh masyarakat.


Efek Monogami dalam Kebebasan & Pertumbuhan Individual

Di era modern ini, banyak orang yang mulai menyadari pentingnya pertumbuhan pribadi. Tapi, kadang-kadang hubungan monogam bisa jadi penghalang buat itu.

Pertama, soal eksplorasi pribadi. Dalam hubungan monogami, beberapa orang mungkin merasa ‘terikat’ dan nggak bisa menjelajahi aspek-aspek lain dari diri mereka. 

Misalnya, mungkin kamu penasaran tentang bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan orang yang punya latar belakang atau kepentingan yang berbeda.

Atau, bisa jadi kamu ingin lebih fokus pada karier atau hobi tanpa merasa ‘bersalah’ karena nggak memberi cukup waktu buat pasangan.

Konten lain:  25+ Inspirasi: Tak Sekedar Kata Mutiara, Tapi Juga Aksi Nyata

Kedua, pentingnya pertumbuhan individu dalam hubungan. Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak harus punya ruang buat tumbuh, baik sebagai individu maupun sebagai pasangan.

Tapi, dalam hubungan monogam, terkadang ekspektasinya adalah kamu dan pasangan harus selalu ‘satu paket,’ yang bisa membatasi ruang buat pertumbuhan pribadi.

Kalau kamu merasa hubunganmu nggak memberi cukup ruang buat kamu tumbuh atau eksplorasi diri, mungkin ini saatnya buat mempertimbangkan model hubungan yang lebih fleksibel.

Ingat, kebahagiaan dan kepuasan pribadi itu penting, dan kadang, itu berarti harus berani melangkah keluar dari ‘kotak’ yang udah ada.


Ekspektasi Tinggi dari “Toxic Monogamy”

Salah satu masalah besar dalam hubungan monogam adalah ekspektasi bahwa satu orang bisa memenuhi semua kebutuhan dan keinginan kita, baik itu emosional, seksual, atau bahkan intelektual.

Tapi, sejujurnya, itu adalah beban yang cukup berat buat ditaruh di pundak satu orang, kan?

Dampak Emosional dan Psikologis

Kalau kita mengharapkan pasangan kita bisa jadi ‘semuanya,’ dari teman curhat, partner seksual, hingga motivator karier, potensi untuk kecewa jadi lebih besar!

Ekspektasi tinggi ini bisa menjadi beban emosional yang berat, nggak cuma buat kita tapi juga buat pasangan.

Lebih dari itu, ekspektasi ini nggak hanya mempengaruhi tingkat kebahagiaan kita dalam hubungan, tapi juga bisa berdampak serius pada kesejahteraan psikologis kita.

Menaruh semua harapan pada satu orang bisa menimbulkan stres, kecemasan, atau bahkan depresi jika ekspektasi tersebut nggak terpenuhi.

Ini bisa jadi siklus yang berbahaya, di mana kekecewaan berulang bisa memperparah kondisi kesehatan mental kita.

Sudut Pandang Ahli

Menurut Dr. Alexandra Solomon, seorang psikolog klinis dan penulis, mengharapkan satu orang bisa memenuhi semua kebutuhan kita adalah resep buat kekecewaan dan bisa merusak hubungan dalam jangka panjang.

Dia bahkan menyarankan agar kita memiliki ‘portfolio kebutuhan,’ yaitu sejumlah orang atau aktivitas yang bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang berbeda.

Jadi, kalau kamu merasa terbebani oleh ekspektasi ini, baik sebagai pemberi atau penerima, mungkin ini saatnya buat merevaluasi.

Ingat, nggak ada yang sempurna di dunia ini, dan itu termasuk hubungan romansa.

Yang penting adalah menemukan keseimbangan dan model hubungan yang memungkinkan kita dan pasangan tumbuh dan bahagia.


5 Model Hubungan Alternatif Selain Monogami

Setelah kita bahas banyak soal monogami dan tantangannya, yuk kita lihat beberapa model hubungan alternatif yang mungkin lebih cocok buat beberapa orang. 

Ingat, nggak ada satu model hubungan yang ‘benar’ atau ‘salah;’ yang ada hanyalah model yang cocok atau nggak cocok buat kamu.

1. Poliamori

Meski "unik", poliamori kini semakin populer di masyarakat Western.
Meski “unik”, poliamori kini semakin populer di masyarakat Western.

Pertama, ada poliamori. Ini adalah model hubungan di mana kamu dan pasanganmu sepakat untuk membuka ruang buat hubungan lain, baik itu emosional atau seksual, dengan orang lain. 

Yang penting di sini adalah komunikasi yang terbuka dan jujur antar semua pihak yang terlibat.

Dengan demikian, tidak ada yang merasa dicurangi atau ditinggalkan. 

Poliamori memberikan kebebasan bagi kamu untuk menjalin hubungan dan mencintai lebih dari satu orang sekaligus, selama semua orang yang terlibat merasa nyaman dan dihargai.

Konten lain:  10 Rahasia Hubungan Cinta Sehat, Bahagia, dan Langgeng

2. Hubungan Terbuka (Open Relationship)

Mirip dengan poliamori, tapi biasanya lebih fokus pada aspek seksual daripada emosional.

Di sini, kamu dan pasangan bisa menjalin hubungan seksual dengan orang lain, tapi tetap mempertahankan komitmen emosional satu sama lain. 

3. Living Apart Together (LAT)

Di model ini, kamu dan pasangan memilih untuk nggak tinggal bersama meski dalam hubungan yang serius.

Ini bisa memberi ruang buat pertumbuhan pribadi dan kebebasan, tanpa mengorbankan keintiman atau komitmen.

Model LAT menghargai individualitas dan memberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan pribadi sambil mempertahankan hubungan yang kokoh dan penuh cinta. 

Jadi, ini bisa menjadi opsi yang baik untuk kamu yang merasa kalau monogami tradisional terasa membatasi. Gimana, tertarik untuk mencoba?

4. Friends with Benefits (FWB)

Friends of Benefits juga salah satu jenis hubungan yang populer akhir-akhir ini.
Friends of Benefits juga salah satu jenis hubungan yang populer akhir-akhir ini.

FWB adalah relasi dimana kedua belah pihak menikmati keintiman seksual tanpa adanya janji atau kewajiban komitmen dalam hubungan romantis.

Singkatnya, FWB merujuk pada hubungan fisik yang dimiliki dua orang yang ‘berteman’. 

Tidak jarang orang mencari alternatif seperti ini, terutama bagi mereka yang ingin menjaga independensi dan kebebasan mereka, atau bagi mereka yang tidak siap atau tidak menginginkan komitmen dalam hubungan serius. 

Jujur saja, FWB mungkin bukan pilihan untuk semua orang, karena memerlukan komunikasi yang sangat baik dan penentuan batas yang jelas.

Jadi, sebelum memutuskan untuk memulai hubungan semacam ini, penting untuk berdiskusi terlebih dahulu sama si dia dan memastikan bahwa kalian berdua berada di halaman yang sama.

5. Relationship Anarchy

Terakhir, ‘Relationship Anarchy.’ Ini adalah model hubungan yang menolak hierarki atau label dalam hubungan.

Artinya, semua hubungan (teman, keluarga, partner) dianggap sama pentingnya, dan nggak ada ‘aturan’ yang harus diikuti selain apa yang disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat. 

Seringkali, ‘Relationship Anarchy’ dipandang sebagai cara modern untuk mendefinisikan dan menavigasi hubungan. 

Dalam model ini, apa yang ‘penting’ dan ‘utama’ ditentukan oleh individu yang terlibat, bukan oleh norma sosial ataupun tekanan masyarakat. 

Fleksibilitas dan kemerdekaan dalam ‘Relationship Anarchy’ merupakan daya tarik utama dari relationship model ini. 

Meski begitu, model ini juga membutuhkan komunikasi yang jujur dan transparan antar pihak agar berjalan dengan baik.


Setelah menjelajahi berbagai aspek dari monogami, mulai dari sejarah, tekanan sosial, hingga model hubungan alternatif, satu hal yang jelas: nggak ada satu “cara benar” untuk menjalin hubungan.

Yang ada hanyalah cara yang membuat kamu dan pasanganmu bahagia dan terpenuhi.

So, kalau kamu merasa terjebak atau nggak nyaman dengan model hubungan monogami, ingatlah bahwa itu cuma salah satu dari banyak pilihan yang ada.

Dan siapa tahu, mungkin ada model hubungan lain yang lebih cocok buat kamu.

Yang paling penting adalah berani untuk mengeksplorasi dan mempertanyakan. Karena pada akhirnya, kebahagiaan dan kepuasan dalam hubungan itu adalah hak kita semua, dan kadang itu berarti harus berani melangkah keluar dari zona nyaman yang ditentukan oleh orang lain.

0 Shares
You May Also Like